Pengalaman melihat gerombolan siluman babi didepan warung yang laris

Yudibatang.com – Halo brother biker 😀 … Malam jumat, waktunya artikel horor. Artikel horor kali ini menceritakan pengalaman saya sendiri yang terjadi ditahun 2002. Dulu saya pernah bekerja disebuah pabrik rotan didaerah Cikarang. Karena saya sudah nggak betah dan ingin mencari tantangan baru, saya memutuskan resign/ mengundurkan diri dari perusahaan tersebut. Pasca keluar kerja dan jadi pengangguran, saya tinggal numpang sementara dirumah kakak didaerah komplek perumahan Halim Perdana Kusuma – Jakarta.

*Dulu tempat ini terminal bis cililitan

Selama tinggal dirumah kakak, Setiap pagi saya selalu membeli koran nasional untuk berburu kerja dikolom lowongan kerja. Dua minggu pertama, saya sering mendatangi perusahaan yang pasang iklan lowongan dikoran tersebut. Ingat sekali bahasanya seperti ini “Walk in interview bla..bla…bla..” . Untuk menuju tempat interview saya menggunakan jasa Angkutan kota. Jaman segitu saya belum punya SIM, jadi nggak berani naik motor sendiri. Karena sering wira-wiri dari rumah kakak menuju Celilitan dengan naik angkot, saya jadi apal warung-warung dipinggir jalan. Dari warung kelontong, wartel, warung makan dll.

Nah..ada satu warung makan (saya lupa lokasinya) yang menurut penglihatan normal saya selalu ramai dikunjungi pembeli. Sedangkan warung-warung lainnya pengunjungnya sedang-sedang saja. Waktu terus berjalan, saya merasa sering kecele kalau mendatangi tempat interview pekerjaan. Kebanyakan MLM, sales kompor dll… sial!! Lalu saya mencoba untuk berpuasa, lebih rajin beribadah dan rajin solat malam. Dalam kondisi pengangguran kaya gitu mau minta bantuan siapa lagi kalau bukan minta bantuan sama yang bikin hidup 😀

*poto ilustrasi

saya masih sering naik angkot melewati warung tersebut. Hari pertama berpuasa, saya berdiam diri dirumah sambil terus mencari info lowongan kerja disurat kabar. Hari kedua berpuasa, saya dapat panggilan kerja dan interview didaerah kebon jeruk. Walau panas, haus saya tetap mencoba bertahan. Wawancara berlangsung dan sipemilik perusahaan tertarik dengan pengalaman kerja saya. namun dia punya beberapa kandidat dan perlu menyeleksi lagi. Saya diminta pulang dulu, nanti akan dikabari lagi. Saya kembali pulang ke Halim. Nah..karena jarak dari Kebon jeruk ke Halim lumayan jauh dan naik angkutan umum pula, sampai cililitan sudah jam lima sore. Jam setengah enam sore saya baru dapat angkot dan duduk dibagian paling belakang mepet kaca belakang. pas naik angkot menuju halim dan melewati warung yang rame tersebut, Saya kaget bukan main….Samar-samar saya melihat beberapa ekor binatang babi hutan alias celeng didepan warung tersebut bro!!  Sambil terus memandangi hewan-hewan tersebut saya mengucek-kucek mata! Lalu saya memandang penumpang didepan saya sambil tanya… “pak didepan warung itu kok ada babi ya?”. Sipenumpang malah bengong sambil berkata “Mana mas, nggak ada kok… adanya orang lagi ngantri beli makan”.. Mak deg!! saya bertanya-tanya dalam hati “Aneh!! kok penglihatan saya jadi lain begini??”

Sampai dirumah pas masuk waktu solat maghrib, sayapun berbuka puasa, mandi dan solat. Saya tidak menceritakan kejadian aneh tadi kepada kakak. Karena kuatir nanti malah nanti geger. Keesokan hari saya masih berpuasa, jam 10 pagi dapat panggilan wawancara kedua. Saya bergegas dan seperti biasa naik angkot lagi, kali ini dapat tempat duduk disamping sopir. Nah..pas melewati warung yang ramai, kembali saya melihat beberapa ekor binatang babi didepan warung tersebut. kali ini terlihat lebih jelas… babi-babi itu hanya bergerak mondar-mandir seperti mengendus-ngendus sesuatu. Pegerakan babi-babi itu ya hanya disitu-situ saja, tidak berlarian umumnya babi. Saya terus memandangi …sampai posisi kepala saya menengok kebelakang. Dan sopir bicara ” Warung itu mah…rame terus mas.. nggak pagi nggak siang pembelinya banyak saja” . Saya hanya mengiyakan tanpa menceritakan bahwa yang saya lihat bukan orang, melainkan babi. Singkat cerita saya sudah sampai ditempat wawancara dan Alhamdulillah saya diterima kerja dengan gaji yang lumayanlah.

Saya senang dan pulang dengan rasa syukur… nah..kebetulan pas naik angkot dari cililitan menuju Halim, waktunya juga menjelang maghrib dan dapat tempat duduknya juga dibelakang mepet kaca. Karena hati lagi senang, saya nggak kepikiran dengan babi-babi. Namun… saat angkot yang saya naiki kebetulan berhenti menurunkan penumpang didepan warung yang ramai, saya kembali ingat dengan babi-babi tadi. Karena posisi angkot berhenti, saya bisa melihat dengan agak jelas…. Memang bentuknya babi, bergerombol, rambutnya hitam lebat…ada semacam taring melengkung tajam keatas… baunya..bro… busuk!! Saat angkot mau berjalan, ada satu ekor yang menatap kearah saya… matanya agak-agak menyala… Hiii… mak porekitiikk!! Saya alihkan pandangan dan berharap segera sampai kerumah kakak.

Keesokan hari saya sudah tidak puasa lagi, karena “hajat” sudah tercapai. Namun saya penasaran dengan babi-babi misterius didepan warung makan, saya sengaja naik angkot hanya untuk memastikan. Saat melewati warung makan yang ramai, kali yang saya lihat tetep manusia. Hhmmm…mungkin kalau lagi puasa dengan sungguh-sungguh dan tulus, kita bisa melihat penampakan-penampakan lelembut-lelembut disekitar kita. 😀

 

 

 

 

19 Comments

  1. ceritanya mirip mas, saya juga ibadah sungguh2 pas cari kerja sampe akhirnya dapet yg gajinya lumayan, ehh malah mangkak…akhirnya nganggur lagi. cuma untung saya gak liat babi, cuma liat banyak makhluk (yang kulitnya) halus, makanya terpengaruh. 😀

  2. kayaknya tau nih rumah makan mana. sampe sekarang juga masih laris kok itu warung.

    malah deket rumah ada cabangnya. tapi gak serame yang di halim.

    mungkin buat penglaris ya?

    kalo masakannya biar makan disana atau dirumah sih sama aja rasanya 😂

  3. Kalau gue makai penglarisan, gue lebih prefer nyi blorong bro. Yg nampak bukan bebi-bebi menjijikan, akan tetapi gadis-gadis molek berkostum ala2 tempo doeloe yg serba seadanya. So pasti yg lagi puasa merem melek donk…. alhasil batal deeegh……. puasanya.
    Cerdas khaaaan?

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*