Pengalaman teman,..diteror gerombolan pocong gara-gara “menilep” uang “sedekah”

Yudibatang.com – Halo brother biker 😀 … Malam Jumat … waktunya menulis artikel yang sangat ditunggu-tunggu penggemar warung yudibatang,… yups..artikel horor!! Artikel horor kali ini menceritakan pengalaman seorang teman yang berasal dari Bantul, Jogjakarta. Namanya Mas Tedjo. Dibeberapa daerah dipulau jawa, kalau ada orang meninggal dunia, biasanya ada tradisi acara tabur bunga dan beras kuning yang di barengi dengan uang recehan ketika memberangkatkan mayat dari rumah duka menuju ke pemakaman.

poto ilustrasi

uang recehan tersebut ditabur saat jenazah akan diberangkatkan dan sepanjang jalan menuju kepemakaman. Biasanya anak-anak kecil sangat suka dengan ritual ini dan mereka “rayahan” alias berlomba mengambil uang-uang receh/koin yang sengaja disebar dijalanan.

Nah… dari acara tabur uang, beras dan bunga itulah pengalaman horor Mas tedjo terjadi… Ceritanya begini…Kejadiannya sekitar tahun 90an yang berlokasi di daerah bantul,.. nama desanya Panggung harjo.

Saat itu Mas Tedjo berumur delapan tahun, ada salah satu tetangga mas Tedjo meninggal dunia. Almarhum adalah orang yang sudah tua alias kakek-kakek. Singkat kata setelah jenazah disolati, jenazah siap akan diberangkatkan menuju pemakaman. Nah.. Mas Tedjo ikut kakaknya yang kebagian memegang “sawur” atau semacam wadah uang yang dicampur dengan sedikit beras kuning dan bunga-bunga.

Saat jenazah diangkat dan menuju kepemakaman, sepanjang jalan kakak mas tedjo menyebar bunga,.. tapi uang logamnya tidak ikutan ditabur melainkan dimasukkan kedalam saku celana mas Tedjo. Namanya anak kecil, Mas tedjo seneng-seneng saja sakunya yang tadinya kosong di isi uang logam yang banyak oleh kakaknya. Kemudian setelah Jenazah dikuburkan, mas Tedjo dan kakanya pulang kerumah. Sore harinya Mas tedjo membelanjakan uangnya untuk membeli tali senar dan layang-layang.

iklan rokok

Senja datang dan memaski waktu maghrib, perasaan mas tedjo menjadi gelisah!! entahlah ,..mungkin mas tedjo merasa bersalah karena memakai uang logam milik sijenazah! Untuk mengusir perasaan gelisah tersebut, mas tedjo pergi kerumah tetangga untuk melihat acara televisi. Maklum jaman segitu jarang sekali orang yang punya televisi. Saat mas Tedjo duduk menonton televisi bersama tetangga yang lain, dilayar televisi lagi tayang iklan rokok jadul Luc*y Str**e yang ada adegan mumi mau memeang koboi.

Tiba-tiba mumi yang ada ditelevisi itu berubah menjadi pocong dan mendekati mas Tedjo!! wuaaaa!!! mas tedjo ketakutan luar biasa,.. namun anehnya orang lain tidak melihatnya! Mas Tedjo langsung lari pulang masuk kerumah. Namun saat mas tedjo masuk kedalam kamar dan hendak tidur,… diseluruh dinding kamar muncul pocong dengan wajah yang sangat menyeramkan!!

Mas Tedjo teriak-teriak hiteris!! Pocong!! pocong!! Orang rumah pada keluar dan masuk kekamar Mas Tedjo,.. “ada apa jo?”… “ada po..po..pocong!!” mas tedjo menjawab. namun tak satupun keluarga mas tedjo melihat pocong. Saat mas Tedjo masih dalam ketakutan,.. dipojokan dinding kamar mas Tedjo muncul sosok yang mas tedjo kenal,…

kakek-kakek lengkap berbusana jawa dan kain jarik serta tongkat yang biasa dia bawa… Ya!! dialah kakek-kakek yang tadi sore dikuburkan!! Sikakek terus mendekat sembari bersuara ” Tooon,..endi duitkuuu….tulong balekno…” translate ” Tooon Mana uangku,..tolong kembalikan”. Saking ketakutannya,.. mas tedjo pingsan! Selama dua hari mas tedjo belum juga siuman!! lalu paman mas tedjo mencarikan kembang setaman (entahlah kasiatnya apa). Setelah sadar, mas tedjo menceritakan kejadian yang membuat dia diteror pocong kepada keluarganya,.. dan kakak mas tedjo dimarahi karena telah lalai tidak melakukan tugasnya dengan benar malah menilep uang sijenazah… hhiiiii

Ini yang namany Mas Tedjo 😀

 

12 Comments

  1. Aku tak pertalite aja wes ….. pertamax ga kebagian. Jgn lupa kemana pun atau lewat tempat angker ga perlu pamit sm penunggu setempat, cukupkan diri dg membaca doa yg sudah diajarkan nabi yg demikian lebih menyelamatkan iman.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*