Nasib Quality Control, bila “mereject” barang “dipaido” , bila ada cacat produksi jadi kambing hitam

Yudibatang.com – Halo brother biker 😀 ,.. Artikel pengetahuan he..he.. Dalam sebuah struktur organisasi perusahaan produsen barang, biasanya ada salah satu divisi namanya Quality Control alias Tukang ngecek kualitas. Kebetulan pekerjaan saya juga Quality Control dibidang Furniture. Tahukah anda…nasib quality control disebuah perusahaan umumnya “dimusuhi” oleh orang produksi, yah wajar saja, orang produksi sudah bikin perencanaan dari awal sampai akhir hingga jadwal pengiriman barang, namun pas ditengah jalan ada “defect” atau cacat yang ditemukan oleh quality control dan barang direject oleh quality control,..imbasnya perencanaan produksi jadi “buyar”. Begitu juga bila barang sudah terlanjur diterima konsumen dan ada cacat yang ditemukan, biasanya quality control ini yang sering disalahkan.

Ada perusahaan yang konsisten mengikuti standar kualitas dan memilih “mendelay” atau memundurkan jadwal pengirimannya ada pula perusahaan yang memilih “mengintervensi” temuan quality control dan “keukeuh” tetap menjalankan produksi tanpa “merevisi” defect temuan quality control. Namun bila ada barang rusak atau cacat sampai ditangan konsumen, si quality control ini yang jadi kambing hitam.

Saya mau cerita pengalaman pribadi dulu saat bekerja disebuah pabrik mebel rotan besar didaerah Cikarang tahun 1994 – 2002.  Dalam pembuatan mebel rotan alurnya dari pembuatan kerangka/sasis kemudian cat rangka kemudian anyam kemudian ampelas kemudian finishing dan packing. masing-masing step ada quality controlnya. Saat itu posisi saya sebagai quality control anyam. dan pada awal-awalnya saya sering jadi “bulan-bulanan” orang produksi. Contoh saat saya mengecek kursi rotan dan saya mereject barang, kepala produksi anyam ikut intervensi dan menyatakan cacat yang saya temukan tidak masalah dan produksi tetap berjalan. Namun dua bulan kemudian ada “klaim” dari buyer. Dan pihak menejemen perusahaan menyalahkan saya, saya sudah membela diri tapi tidak punya bukti. akhirnya saya diberi surat peringatan. Asemm!! Sayapun mencari cara agar lepas dari “belenggu” cengkeraman tipu daya orang produksi..he..he…

Suatu hari saya kembali menemukan “defect” atau cacat pada barang. seperti biasa kepala produksi mau mengintervensi saya,.. okelah kalau begitu,..“silahkan mengintervensi tapi sampean tanda tangan disini ya” ucap saya sembari menyodorkan sebuah buku yang berisi keterangan bahwa kepala produksi yang bertanggung jawab dengan cacat temuan saya. Sikepala produksi dengan entengnya tanda tangan dibuku yang saya sodorkan. Dua bulan kemudian muncul lagi “klaim” dari buyer. Saya dipanggil menejemen dan mau dijatuhi “hukuman” namun saat saya jelaskan ada orang lain yang bertanggung jawab dengan memperlihatkan buku yang berisi keterangan “meloloskan” barang yang ditanda tangani kepala produksi, saya “selamat” dan gantian kepala produksi yang “dihajar” habis-habisan oleh menejemen. modiyar!! he..he…

*Poto ilustrasi Mbah Soichiro Honda lagi memeberi wejangan pada karyawan

Nah..dilain waktu, saya kembali menemukan “cacat” pada produk kursi baru yang baru pertama kali produksi. cacat yang saya temukan saat itu bukan masalah anyamannya melainkan masalah pada rangka kursi yang terbuat dari pipa besi. Bentuknya/kelengkungannya berbeda dari sample produksi, karena rangkanya berbeda bentuk anyamannypun jadi berbeda. Saya reject semua kursi baru tersebut. Sang kepala produksi marah-marah dan mau mengintervensi saya agar meloloskan kursi baru tersebut. Namun ketika saya sodorkan buku dan saya suruh tanda tangan, beliaunya mundur tapi sambil terus cuap-cuap kalau kursi tersebut sangat prioritas. Saya tetap pada pendirian dan ora urusan. Maka sang kepala produksi anyam lapor kepada menejer Quality control. Saat menejer quality control datang dan melihat cacat pada kursi yang saya temukan, sang menejer Quality control tidak berani memberikan jawaban. Menejer quality control memanggil menejer produksi dan mendiskusikan cacat pada kursi yang saya temukan. Mereka berdua tidak berani bertanggung jawab dan akhirnya direkturnya turun dan melihat langsung cacat pada kursi yang saya temukan. Nggak pake lama, sang direksi langsung memerintahkan semua kursi yang saya reject harus dibongkar dan diperbaiki rangkanya kemudian dianyam ulang.. Weh… selamat saya. Saya berpikiran bahwa lebih baik barang diperbaiki dan pengiriman mundur dari pada barang sampai konsumen tapi rusak. Semenjak itu, Quality control diperusahaan tempat saya bekerja menjadi sangat diperhitungakn. Begitulah ceritanya… 😀

*Note! Artikel ini nggak bahas otomotif ya he..he..

27 Comments

  1. waduh kirain bahas dudukan shock ama arm yg ga center di motor premium.
    rame berjilid2nya malah di otomotifnet, blogger ga berani.. 😀

      • Iya halus pake banget. Tapi *Note-nya itu setara bogem mbahhh….
        Gak pake Note mawon mpun sami ngeh..
        Wkwkwkwkwk

  2. bener mas yud saya sudah merasakan kerja sebagai quality control selama 10 tahun persis ceritane sama mas yud….bravo mas yud smangat terus…

    • Sorry, yang belang cuma warna merah. Udah ada kasus. Lihat di otomotifnet dikupas berjilid-jilid (saat Bloger Papan Billboard pada mingkem). Kasihan konsumen. gak ada yang BELAIN !!

  3. Apalagi kalau melibatkan vendor lain, jadi malah blunder. Sampai sekarang belum berani mengeluarkan pernyataan, karena kalau yang disalahkan part dari vendor anu, berarti merek vendor anu akan kena imbas yang sangat besar, mungkin reputasi juga ikut turun. Tapi kalau ternyata kerjaan sendiri yang salah, misal pada dudukan “anu”nya yang tidak presisi, nanti reputasi sendiri yang turun, masa bisa bikin pesawat terbang, bikin dudukan aja melenceng. Kalau sudah begini mungkin masih harus dicari dulu orang yang tanda tangan di buku itu, yang mana orangnya. Atau jangan jangan bukunya lagi diumpetin?

  4. Sy dulu jg di bagian quality control pabrikan motor terbesar di indo om yud…
    Yah..memang begitulah kenyataan di lapangan..ada orng2 yang memang memiliki passion dan mengerjakan pekerjaan dg sepenuh hati, ada juga orng2 yang hanya sekedar bekerja untuk mencari duit

  5. hualusssss bigiiits iki mbah sindirane…
    apalagi kejadian terakhir yg salah dari rangka motor,eh salah kursi maksute…solusinya ga cuma bisa ganti sparepart shock eh salah mksute anyaman aja ya…
    jadi harus bongkar semua…nah klo sudah sampe ke konsumen bisa repot juga ya…khn harus ganti BP.. eh salah meneh…harus ganti kwitansi pembelian…iya tho…mbah
    tapi hru

    • Keren banget komennya bro theblogname tentang kasus shock belakang yg bengkok dan katanya mungkin dari rangka sudah bengkok.

      Dan tak ada blogger kondang yg berani menulis blak2an kasus ini. 🙂

  6. klo kasus yg itu kenapa harus klaim? itu murni kesalahan konsumen… para blogger titipan pun gak berani angkat issue tersebut. tp klo spakbor miring dan swing arm patah sampe berjilid2 beritanya

    ngah ngah ngah..

    • Penari erot juga dibahas. Padahal penari itu bukanlah bagian dari satu produk sepeda motor. Apalagi salah satu sparepart utama/vital sebuah product motorcycle.
      Nahhh…. Piye jal?

  7. Itulah alasan sya pindah ke bagian produksi. Dari mulai kerja jd qc langsung punya bnyak musuh sampai asmen. Tanggung jwb berat. Sering adu argumen. QC di indo msh di no 2 kan. Beda sm di jepang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.