Cara lepas dari sifat fanatisme berlebihan pada merk motor

Yudibatang – Halo brother biker 😀 ,.. Segala sesuatu kalau berlebihan biasanya kurang baik, yang baik ya proporsional atau pas. Begitu juga tentang tingkat kesenangan pada sebuah merek, entah itu merk mobil, merk smartphone, merk mi instant ataupun merk sepeda motor. Okay kita bahas Cara lepas dari fantisme berlebihan bada sebuah merk sepeda motor. Yang namanya produk sepeda motor ataupun produk otomotip lainnya pasti masing-masing memiliki penggemar tersendiri. DiIndonesia ada banyak produk sepeda motor, yang paling dikenal masyarakat ya the Japanese big four yaitu Honda, Yamaha, Kawasaki dan Suzuki.

Kalau pas lagi membaca-baca komentar dibeberapa blog roda dua yang terkenal ada saja debat kusir yang membela merk sepeda motor tertentu. Bila ada artikel yang membahas merk H pasti ada komentator Fansboy merk Y yang panas. Begitu juga sebaliknya. Menurut opini yudibatang, para komentator fans boy ini ada yang murni fanatik ada juga yang “orang suruhan” merk sepeda motor tertentu. Jujur saja, dulu saya adalah Fans boy Honda fanatik totok,. sepeda motor = Honda. Apalagi mindset itu tertanam sejak kecil. Kalau ada sepeda motor lewat atau orang bawa sepeda motor datang kerumah, pasti kalau menanyakan merk sepeda motor tersebut diawali dengan honda.

Seiring berjalannya waktu, sepeda motor pertama yang mampu saya beli dengan hasil keringat sendiri juga merknya Honda. yaitu motor bebek Honda supra fit tahun 2004. Ingat sekali bisa beli motor sendiri setelah menikah, belinya didealer Honda 54 motor Batang-Jawa tengah. Waktu itu saya bangga sekali memakai Honda supra fit (walau sebenarnya supra fit adalah produk ahm yang paling murah ). “wis pokoke Honda paling jozz” kalau ada orang yang mengkritik produk Honda, pasti saya nggak terima dan dengan kemauan sendiri, membela habis-habisan (padahal gak dibayar :mrgreen: ). Supra fit ini saya rawat dengan baik dan saya pakai untuk perjalanan kerja dari Batang-Semarang seminggu sekali hingga tahun 2008.

Teman-teman kerja juga menggunakan sepeda motor Honda, kebanyakan Honda Supra X, Honda Mega pro dan honda Tiger. Tahun 2007 kantor membeli sepeda motor untuk dipakai operasional office boy, sepeda motornya Suzuki smash 110. Mau nggak mau, kadang-kadang saya memakai suzuki smash tersebut untuk keperluan kantor. Mulailah terbuka cara pandang saya tentang sepeda motor. Bahwasanya ada sepeda motor merk lain selain Honda yang memiliki performa lebih bagus. sebulan kemudian ada karyawan baru masuk, Namanya Pujiyanto dari sala Tiga (desanya namany Nggendor) Pujiyanto ini tunggangannya Yamaha Vega. beberapa waktu kemudian sayapun mencoba yamaha Vega tunggangan pujiyanto, dan.. “woh..yamaha Vega juga lebih enak dibanding supra fit!!”.

biker akan bermatik ria
yudibatang

Kemudian muncul keinginan untuk naik kelas kemotor batangan yang kubikasinya lebih besar. dan sejak saat itu saya sering browsing internet mencari informasi seputar motor batangan. yang pertama saya buka website resmi Honda, Yamaha, Suzuki dan Kawasaki. kemudian nyasar diblog ternama dari situlah wawasan saya mulai terbuka dan bertambah tentang sepeda motor.

Setelah punya cukup uang, saya menyambangi dealer-dealer sepeda motor di daerah Batang. Dealer yang pertama saya datangi adalah dealer Honda, pilihannya ada Honda megison Megapro 160cc. Hhmm..modelnya kurang suka dan tehnologinya sudah ketinggalan. kemudian menyambangi dealer suzuki, pilihannya ada suzuki satria FU (sayang kekecilan) dan Suzuki Thunder 125 (ccnya nanggung dan modelnya dah ketinggalan). Lalu mendatangi dealer yamaha depan rumah, woh..malah ora digagas mentang-mentang saya datangnya cuman pake celana pendek dan sandal jepit. Saya pingin beli Yamaha vixion tapi indennya tiga bulan dan harus ngasih uang persekot pula.

Sebulan kemudian pas lagi jalan-jalan dipekalongan, saya iseng mampir didealer yamaha pekalongan. setelah ngobrol panjang sama salesnya, tiga hari kemudian datanglah yamaha vixion yang dinamai siKibaliyut. satu tahun kemudian supra fit saya jual dan diganti honda Scoopy (padahal sebrang rumah ada dealer yamaha). So.. Cara lepas dari sifat fanatisme berlebihan pada merk motor adalah cobalah sepeda motor lain yang sekelas. Bandingkan valuenya. Belilah sesuai kebutuhan dan sesuai dengan kantong anda, kalau ada orang lain yang mengkritik atau menjelekkan sepeda motor anda, nggak usah diurusin kecuali orang terebut mau membelikan sepeda motor baru yang menurut orang tersebut lebih bagus.

10 Komentar

  1. Belilah sesuai kebutuhan dan sesuai dengan kantong anda, kalau ada orang lain yang mengkritik atau menjelekkan sepeda motor anda, nggak usah diurusin kecuali orang terebut mau membelikan sepeda motor baru yang menurut orang tersebut lebih bagus. <== sepakat Mbah Yud … duit-duit siape kok orang laen yang ribut yak

  2. Repost ya Mas Yudi.

    Btw saya sependapat, baik R2 maupun R4, saya belinya enggak tergantung merk, tapi berdasar spek teknis, review para pengguna dan kendaraannya saya (eh, kami, soale selalu musyawarah dgn istri) sukai.

    Makanya kami pernah pake motor2 Jia Ling, Suzuki, Kawasaki, Honda, Yamaha.
    Mobil pernah pake merk2 Eropa, Amerika, Korea dan Jepang.

  3. Logo yg biru ada di kiri atas. Itu lokasi paling strategis. Bila mata lihat sebuah bidang 2 dimensi. Di situ laaagh pertama kali mata tertuju. Bila pasang iklan di tempat itu, ongkosnya paling mahal bro sobs sekalian….. Ada namanya sendiri area itu. Ahakan tehetapi saya lupa.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.