Naik motor ke kota lain, membuat anda lebih memperhatikan rambu dan marka jalan

lebih memperhatikan rambu dan marka jalan
solo riding ke kota jepara

Yudibatang.com – Halo brother biker 😀 ,.. Dulu,.. waktu saya baru punya motor dan jarang naik motor jarak jauh, saya tidak begitu perduli dengan yang namanya rambu-rambu lalu lintas dan marka jalan. Yah,.. karena kota tempat tinggal saya relatif kecil serta saya dolane kurang adoh. Nah,..setelah saya sering naik motor ke kota lain, barulah saya mulai memperhatikan rambu dan marka jalan. Lho kok bisa? Yups,.. salah satu ceritanya begini.

Sekitar tahun 2006 Saya bekerja disebuah perusahaan trading yang menuntut untuk traveling ke kota-kota di daerah Jawa tengah, Jawa timur dan Jawa barat. Jawa tengah di sekitar semarang, Solo dan Jepara. Jawa Timur sekitar Ponorogo, Jombang dan Pasuruan. Dan jawa barat hanya ada di Cirebon. Oh..iya pekerjaan saya adalah quality control mebel. Biasanya saya menggunakan transportasi umum untuk menuju kota-kota tersebut. Nah,..suatu saat saya ingin tantangan baru,.. saya menggunakan motor bebek Honda Supra fit tahun 2006. Waktu itu saya dari batang jawa tengah hendak menuju ke Ponorogo Jawa Timur.

motor kenangan
Honda Supra fit

lebih memperhatikan rambu dan marka jalan

Rute yang saya lalui adalah Batang – kendal – Semarang. Kemudian Dari Semarang – Sala Tiga – Boyolali – Kartasura – Solo. Nah saat di kota Solo ini saya kebingungan,.. jalan-jalan di dalam kota solo banyak yang searah. Jaman segitu belum ada aplikasi google map dan lain-lain. Saya mengandalkan aplikasi TNC alias Takon Nganggo Cangkem (Tanya pake Mulut) kepada orang-orang sekitar . Di kota solo pula saya lebih sangat memperhatikan rambu-rambu dan marka jalan. Walau sudah sangat hati-hati, tapi masih saja saya kebalasen masuk kejalan searah. Triknya agar tidak ditilang pak Pulisi, saya matikan mesin dan pura-pura dorong motor lalu tanya kepada pak pulisi dimana bengkel terdekat. he..he..

pertigaan secang

Dari kota solo tujuan saya aslina mau lewat sukoharjo – Solo baru – wonogiri-purwantoro hingga sampai ponorogo. Di Kota Solo ini saya kesasar muter-mutar sampai ke jalan yang hendak menuju ke Sragen. Jian!! Jalanan di kota solo bener-bener bikin pusing bagi biker luar kota. Saya coba perhtikan lagi rambu-rambu penunjuk jalan. nah,..disinilah saya menjadi sangat perhatian dan berusaha memahami setiap rambu dan marka jalan yang saya temui. Akhirnya saya bisa menemukan jalan menuju ke Ponorogo via Wonogiri dan purwantoro. oh,..iya di jalan wonogiri ini saya punya pengalaman horor yang pernah saya tulis di blog ini.

( Baca :Pengalaman solo riding di rubung lelelmbut di jalan Wonogiri Ponorogo ) 

Semenjak pengalaman “dolan adoh” dan kesasar muter-muter di kota solo, saya jadi “aware” dengan setiap rambu dan marka jalan yang saya temui ketika naik motor. So,… cobalah sekali-kali naik motor sendiri ke kota lain alias dolan yang adoh biar tambah pengalaman serta lebih memperhatikan rambu dan marka jalan.

8 Komentar

  1. Betul mbah. Kalau saya juga ga berani banter-banter. Itu sinkron sama nasha 98cc saya, yg Topspeed nya 50km/h. Alon-alon waton kelakon dapet. Menikmati pemandangan juga dapet. Dan pasti safety. Longest distance saya jogja – semarang. Senang tenan visiting kota lama Semarang Utara mbah.

  2. Sebelum ada GPS, saya kalo pake mobil lewat kota yg belum dikenal sering nyasar.
    Kalo pake motor rasanya belum pernah nyasar, soale kalo ragu bisa langsung brenti dan memanfaatkan TNgC kayak Mas Yudi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.